Empat Dekade, Satu Garis Juang
Dari sekelompok mahasiswa pencinta alam di Lapangan Catur pada 1986 hingga menjadi potensi SAR yang diperhitungkan di kancah nasional — telusuri tapak sejarah SAR UNHAS.
SAR mahasiswa pertama di Indonesia
Di Lapangan Catur, Umar Arsal bersama kawan-kawan pencinta alam Unhas membentuk unit relawan kemanusiaan. Pada 14 Juni 1986, SAR UNHAS resmi lahir — merintis dari titik nol, tanpa role model di Indonesia.
Badai Bawakaraeng
Badai dan hujan lebat melanda puncak Gunung Bawakaraeng saat ratusan peziarah mengikuti tradisi musim Idul Adha. Tiga belas orang meninggal dunia; puluhan lainnya dievakuasi tim SAR UNHAS — operasi berskala besar pertama organisasi ini.
Andalan operasi lokal
Sepanjang dekade ini SAR UNHAS menangani puluhan operasi sungai, banjir Kota Makassar, hingga siaga La Nina — mengukuhkan diri sebagai potensi SAR yang diandalkan di Sulawesi Selatan.

Tsunami Aceh
SAR UNHAS turut hadir dalam operasi kemanusiaan gempa dan tsunami Aceh — salah satu bencana terbesar di Indonesia — membawa keahlian dan logistik mandiri ke medan yang jauh.
Himalaya & Elbrus
Tim senior SAR UNHAS menembus lanskap dunia — puncak Kala Patthar (5.550 mdpl) di jalur Everest, Himalaya, Nepal, dan Mt. Elbrus di Rusia, salah satu dari World Seven Summits.

Gempa & Likuefaksi Palu
Tim diterjunkan dalam operasi gempa dan likuefaksi Palu–Donggala di Sulawesi Tengah, bahu-membahu dengan Basarnas dan potensi SAR lain menangani salah satu bencana paling memilukan.
Bulusaraung & Milad ke-40
Awal tahun, SAR UNHAS bergabung dalam operasi pencarian pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung. Pada 14 Juni 2026, empat dekade pengabdian dirayakan lewat peluncuran buku “Rumah Jingga Tamalanrea”.



